Suatu ketika saya ngobrol dengan seorang pemuda pengangguran tetapi dengan keberanian yang tinggi dia sudah menikah dan memiliki anak. Dengan gelar pengangguran itu maka bisa dipastikan betapa sulitnya pemuda ini mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Bagaimana dia harus mengais rezeki??? inilah pertanyaan yang selau membebani pikiran saya. Namun anehnya dia selalu bisa bercanda dengan teman-teman dimana biasa dia “nongkrong”, menghisap rokok dalam-dalam lalu mengepulkan asap keudara sehingga membentuk lingkaran-lingkaran putih keangkasa. Seolah tanpa beban. Kadang dia bekerja kalau ada yang menyuruh, dua atau tiga hari setelah itu nganggur lagi. Kembali kekehidupan sebelumnya. Untuk meringankan beban keluarga kecilnya dia menempati satu kamar dirumah orang tuanya, supaya tidak mengeluarkan cost untuk sewa rumah. Dan kalau ada apa-apa bisa dekat dengan orang tuanya.
Pertanyaan saya di suatu ketika,
Jo…? dirumah melulu nih, nggak kerja?
Johansyah (namasamaran) menjawab,” eh nggak pak, gak ada yang nyuruh”. berarti selama tidak ada yang menyuruh dan memanfaatkan tenaganya, maka Johansyah bisa enak nyaman tanpa aktivitas.
Kenapa gak cari kerja yang lain, kemana gitu yang penting punya penghasilan?”tanyaku selanjutnya.
Jo;”boro-boro pak, yang bawa gak ada, kenalan gak punya, ijasah SMA, yang sarjana aja banyak pada nganggur apalagi saya. Bapak mau nyariin pekerjaan”.
Saya memahami permasalahan pemuda ini meskipun belum sampai akarnya yaitu tidak punya relasi, kurangnya pendidikan dan ketrampilan dan agak pesimis.
Saya lanjut bertanya:” kalau gak punya pekerjaan tetap kenapa gak buka usaha sendiri saja? semacam usaha mandiri atau bisnis yang waktunya lebih fleksibel”
Jo:”hahahahha (tertawa) yah bapak kayak gak tahu ajah…. modal dari mana?? buat makan saja susah apalagi modal. Bapak mau kasih modal? ah jangan pak yang sudah-sudah pada usaha juga bangkrut apalagi saya? Ilmunya gak ada.”
Iya…ya. ternyata usaha perlu modal. Tetapi kalaupun dia dikasih modal mau dipakai untuk usaha apa? Bisa jadi malah habis untuk dipakai makan sekeluarga. Tetapi bukankah manusia sebagai satu individu sudah memiliki modal?? misalnya otak/pikiran untuk menggagas maupun cari ide. Kaki untuk berjalan agar ide bisa terealisasikan, memiliki tangan yang kalau dikonversi dengan rupiah nilainya berapa juta?? Jadi??? mungkin orang seperti Johan kesimpulanya malas.
Tetapi kenapa malas sedangkan hidup harus berlangsung dan kebutuhan hidup harus terpenuhi. Tetapi seandainya mau usaha masak hanya modal tangan? buat mengemis? tinggal nadah. Atau menodong orang..? Oh berarti bukan malas tetapi pikirannya terblokir dengan keterbatasan informasi. Jadi sebetulnya orang seperti ini perlu bantuan untuk membuka pikirannya, mindsetnya, agar terbuka jalan keluarnya.
setiap manusia dikeluarkan dari perut ibunya dengan tidak mengetahui apa-apa sama sekali, kemudian Tuhan memberikan penglihatan, pendengaran dan hati agar kita bisa bersyukur (Qur’an)
Maka marilah berguru kepada pemulung bila kita hanya punya modal tenaga. Tetapi bila kita memiliki sedikit kecerdikan ya marilah ngeblog untuk sedikit bercerita mencerahkan dan menambah sedikit penghasilan. Monggo……